Praktik baik kepala sekolah adalah pengalaman terbaik yang dimiliki kepala sekolah dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Praktik baik ini dapat memberikan dampak positif bagi pengelolaan sekolah, proses pembelajaran, dan pengembangan kapasitas kepala sekolah, guru, maupun siswa. Kepala sekolah memiliki peran penting dalam upaya meningkatkan kinerja sekolah secara keseluruhan. Peran kepala sekolah tidak hanya terbatas pada aspek administratif, tetapi juga pada peningkatan kualitas pembelajaran dan kinerja tenaga pengajar. Praktik baik dapat berupa kumpulan kebijakan atau praktik yang memiliki satu topik perbaikan. Praktik baik dapat membantu kepala sekolah, pengawas sekolah, atau guru untuk memperbaiki kebijakan, keadaan sekolah, kompetensi guru, atau yang serupa. Beberapa contoh praktik baik yang telah dilakukan oleh Kepala SMP Negeri 6 Singaraja yaitu :
1. Implementasi Tindak Lanjut Hasil Supervisi Akademik Untuk Meningkatkan Kompetensi Guru Dalam Pembelajaran Berbasis Tik Melalui Pembimbingan dengan Shoping di SMPN 2 Sukasada Tahun Pelajaran 2016/2017
Penelitian ini dilaksanakan dengan subjek 26 orang guru di SMP Negeri 2 Sukasada tahun pelajaran 2016/2017. Penelitian dilaksanakan berdasarkan hasil pengamatan dan supervisi akademik kepala sekolah tahun ajaran 2015/2016. Permasalahan ini diidentifikasi karena 1) sebagian besar guru belum terbiasa menggunakan komputer, 2) guru-guru yang sudah bisa komputer belum memanfaatkan TIK dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk: meningkatkan kompetensi guru dalam pembelajaran berbasis TIK melalui pembimbingan, dilaksanakan dengan inovasi menggabungkan metode workshop dan mentoring (shoping).
2. Pembelajaran Diferensial Dengan "Mantera Pemuas"
‘Mantera pemuas’ dalam penelitian ini merupakan singkatan dari manajemen pembelajaran di luar kelas yaitu suatu tindakan penelitian dengan cara mewajibkan guru menerapkan pembelajaran di luar kelas untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan guru. Berdasarkan hasil tersebut serta didukung hasil wawancara tanggapan siswa menunjukkan bahwa manajemen terapkan pembelajaran di luar kelas (mantera pemuas) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa SMP Negeri 6 Singaraja pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020 serta kualitas pembelajaran guru.
3. Produk ‘Meme Kar Nyampat’ Di Sekolah
Kalimat “Meme Kar Nyampat” pada laporan ini merupakan singkatan dari Melayani Melalui Karya Nyata yang Bermanfaat, merupakan hasil nyata atau produk dari praktik baik kepala sekolah yang dilakukan dengan konsep melayani melalui karya nyata yang bermanfaat di sekolah, untuk meningkatkan kompetensi kepala sekolah baik dalam bidang manajemen maupun supervisi akademik, baik yang bersifat individu maupun berkelompok
4. Jejak Kompetitif Sang Kepala Sekolah
Semangat kompetitif seorang kepala sekolah yang telah terbentuk sejak masa menjadi guru memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan sekolah yang dipimpinnya. Kepala sekolah yang memiliki pengalaman berkompetisi dan memperoleh berbagai prestasi mencerminkan sosok pemimpin yang tidak hanya mengandalkan teori kepemimpinan, tetapi juga berlatih nyata dalam mengelola sekolah. Laporan praktik baik ini merupakan rekapan prestasi yang diraih saat berkompetisi sejak menjadi guru hingga diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah.
5. Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Materi Bangun Ruang Dengan Menggunakan Alat Peraga Bangun Ruang Pada Siswa Kelas IX A Semester I SMP Negeri 2 Sukasada Tahun Ajaran 2017/2018
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa.Lokasi penelitian ini di SMP Negeri 2 Sukasada Kecamatan Sukasada dengan jumlah siswa 32 orang.Data dalam penelitian ini diperoleh dari tes pemahaman konsep yang kemudian dilakukan analisis secara deskriptif.Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus dilakukan berdasar tahapan: (1) menyusun rencana kegiatan, (2) melaksanakan tindakan,(3) observasi, dan (4) analisis yang dilanjutkan dengan refleksi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut hasil observasi awal pembelajaran siswa kurang aktif, mudah jenuh, dan perhatian siswa pada penjelasan guru sangat kecil sehingga nilai rata-rata siswa hanya sebesar 51,23 Setelah tindakan siklus I pemahaman konsep siswa meningkat menjadi rata-rata 63,19 dengan katagori sedang dan memiliki prosentase ketuntasan klasikal sebesar 40,63% meningkat pada siklus II menjadi 77,66 dengan katagori tinggi dan memiliki prosentase ketuntasan klasikal sebesar 81,23 dan pada siklus III meningkat lagi dengan rata- rata 84,59 dengan prosentase ketuntasan klasikal sebesar 100%.